Chapter 3 - Kincir ria, Perasaan, Dan Keterikatan Kuantum
Part 1
Cahaya matahari pagi menyinari dari jendela, sementara aku dan Toka duduk berhadapan di meja dengan ekspresi serius.
Bagi mereka yang tidak mengetahui situasinya, mungkin mereka akan mengira bahwa sebuah duel ala film koboi barat akan segera dimulai, begitu tegangnya suasana ini.
Touka menarik napas dalam-dalam.
Di depanku ada sebuah piring dengan benda berwarna kuning yang terletak di atasnya.
"Nah, silakan, Rihto-san, si-silakan di makan..."
Suara Touka bergetar, penuh dengan ketegangan.
"Aku akan makan..."
"Tolong... kumohon..."
Touka menyatukan kedua tangannya seolah-olah sedang berdoa kepada Tuhan.
Dengan gerakan yang khidmat, aku meraih tamagoyaki (telur dadar) buatan Toka.
Dengan bunyi "sakuri", ujung sumpitku menembus lapisan-lapisan kuning tamagoyaki itu. Kemudian, potongan kecil itu kubawa ke mulutku—aroma manis dan rasa lezatnya segera menyebar di dalam mulutku.
"…Bagaimana…?"
Dengan nada suara yang penuh kekhawatiran, Touka menatap wajahku dengan cemas dan bertanya.
"Ini..."
"Ini?"
"Lezat...!"
Aku menyampaikan pendapatku tanpa ada kebohongan sedikit pun.
Begitu mendengar itu, seketika.
"Uwaaaaa! Berhasil! Rihto-san! Tamagoyaki berhasil!"
Toka melompat kegirangan dan langsung memelukku.
"Whoa, tunggu, tenang dulu!"
Aku menepuk punggungnya sambil mencoba menenangkannya. Setelah menarik napas dalam-dalam, Toka duduk kembali di meja, masih tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dan menatapku dengan penuh semangat.
"Nah, Rihto-san! Akhirnya aku bisa membuatnya dengan lezat, kan!"
"Ya, akhirnya kau berhasil!"
"Aku sangat khawatir bagaimana jika Rihto-san tidak menyukai masakanku yang satu ini."
"Tapi, aku sangat terkejut. Ketika pertama kali datang ke sini, Toka yang hanya bisa membuat masakan seperti arang gosong, sekarang bisa membuat tamagoyaki yang begitu baik. Dibandingkan dengan yang pertama, ini kemajuan yang luar biasa."
"Hehe, ini kemenangan besar bagi sains dan percobaan terus-menerus! Nah... sekarang giliran Rihto-san! Aku ingin mendengarnya!"
Sambil menyantap tamagoyaki dan mengangguk-anggukkan kepala, Toka menatapku sambil mengulurkan tangannya.
"Giliranku?"
"Jangan pura-pura lupa, ini tentang laporan penelitian manusia minggu ini. Hmm, benar-benar enak. Aku bisa makan masakan telur seumur hidup!"
"Itu berbahaya buat kolesterol... Oh, jadi, laporan penelitian manusia..."
Dalam kehidupan bersama kami, ada sebuah perjanjian.
Toka harus melakukan eksperimen membuat mesin waktu tiga kali seminggu dan menyerahkan laporan penelitian kepada aku.
Sementara itu, aku harus berusaha untuk memahami emosi manusia dengan mengamati manusia di dunia ini dan menyerahkan "laporan penelitian kemanusiaan". Kemudian Toka akan memberikan berbagai saran kepadaku.
Meskipun sedikit aneh bagi seorang siswi SMA untuk menilai kemanusiaanku, aku mengeluarkan buku catatan A4 dari tas.
"Yah... aku sudah menulisnya, sih."
"Wow, murid yang hebat. Kalau begitu, sekalian saja kita presentasikan di sini! Aku juga ingin mendengarnya langsung dari mulut Rihto-san!"
"…Eeee…"
Sebenarnya, aku ingin menyerahkan ini saja dan menyelesaikannya, tetapi suasana menjadi sulit untuk berkata tidak karena Toka tersenyum lebar di depanku.
"…A-ah, ini adalah pengamatan manusia minggu ini."
"Eeee, teruskan "
Rasanya seperti dipaksa membaca karangan di depan kelas saat pelajaran bahasa, sangat memalukan.
"Tanggal ○ bulan ×. Toka, setelah mandi, meminum susu. Tampaknya, dia menemukan kesenangan dalam meminumnya sekaligus. Susu yang tumpah dari mulutnya terlihat menjijikkan bagiku."
Duk! Toka membenturkan kepalanya ke meja, menghentikan pembacaan laporanku.
"Eh, tunggu sebentar, kenapa langsung tentang Toka!? Dan itu bagian yang paling tidak ingin aku tunjukkan!"
"…Sebagai investor individu, aku jarang keluar rumah. Jadi, aku tidak banyak bertemu dengan orang lain, mau bagaimana lagi."
"Tapi, kenapa harus adegan seperti itu… ja-jangan ditulis yang seperti itu!"
Toka memukul-mukul lenganku dengan kesal. Meski begitu, dia tampak penasaran dengan kelanjutannya.
"…Lalu… se-setelah itu?"
Rasa ingin tahunya sepertinya mengalahkan rasa malunya, dia bertanya dengan suara pelan.
"Touka yang telah menghabiskan susunya tiba-tiba naik ke timbangan dan menundukkan kepala. Sepertinya dia melihat angka yang membuatnya putus asa. Jika dilihat dari kalori yang dikonsumsi minggu ini, kemungkinan berat badannya bertambah sekitar—"
"Tunggu, tunggu, tunggu────! Jangan hitung sampai sejauh itu!"
Toka dengan putus asa meraih buku catatanku dari atas meja.
"Sepertinya… yang selanjutnya… jangan… dibaca lagi…"
Dengan wajah merah padam dan suara tersendat-sendat, Touka memohon dengan penuh rasa malu.
"Ugh… tapi ini bukan penelitian manusia, ini cuma diari pengamatan Touka saja… Aku berharap Rihto-san bisa memberikan wawasan berharga yang kamu dapatkan dari mengamati orang-orang di jalan atau dari percakapan dengan orang di toko…"
"Seorang penyendiri mana mungkin punya yang seperti itu. Untuk hari ini, ini sudah cukup."
Kemudian, aku menutup buku catatanku dengan keras.
"Yah… sudahlah! Meski begitu, aku tetap senang! Ehehe, terima kasih karena minggu ini juga kamu mengamati Touka dengan baik—terima kasih banyak. Bagus, bagus."
Sambil berkata begitu, Toka mengulurkan tangannya untuk mengelus kepalaku.
"…Apa, apa ini?"
"Aaah, jangan bergerak, Rihto-san. Guru sedang memberi stempel pada murid yang rajin mengerjakan PR. Bagus sekali, bagus sekali."
"…Kalau kau memang ingin melakukannya, lakukan sesukamu sampai puas."
"Ya! Ehehe, Rihito-san itu luar biasa, luar biasa~."
Toka benar-benar terlihat senang, dan dia terus mengusap kepalaku selama beberapa menit.
* * * * * *
"Fuwaa, ngantuk..."
Hari itu, aku menguap lebar sambil menaruh kantong sampah di tempat pembuangan sebagai bagian dari rutinitas pagiku. Saat hendak kembali ke pintu masuk apartemen, aku melihat pengumuman yang ditempel di papan buletin dan bergumam.
"...Ada orang mencurigakan lagi."
Itu adalah selebaran yang memberitahukan bahwa baru-baru ini ada orang mencurigakan yang sering terlihat di sekitar apartemen.
Dunia semakin tidak aman. Dulu, jika ada pencuri masuk, aku tidak terlalu khawatir karena tidak ada barang berharga di rumah. Namun, sejak Toka tinggal bersamaku, ketakutan terhadap orang asing menjadi terasa berbeda..
"Aku harus memberitahu Toka agar berhati-hati juga..."
Sesampainya di rumah, aku segera menyampaikan informasi ini kepada Toka.
"Heii, Touka."
Ketika aku masuk ke ruang tamu, Toka sedang berbaring di sofa, makan keripik kentang sambil menonton film. Kakinya bergerak-gerak dengan bebas, memperlihatkan paha yang terbuka lebar—membuatku sedikit kebingungan harus melihat ke mana.
"...Film apa yang kamu tonton?"
"Uh, ini, film terkenal tentang mesin waktu! Toka belum pernah nonton sebelumnya."
Sambil berkata begitu, Touka mengulurkan kemas DVD kepadaku. Ternyata itu adalah film fiksi ilmiah yang sangat terkenal, Back to the Future, yang tentu saja sudah pernah kutonton.
"Oh, film ini. Di akhir film, petir menyambar menara jam, lalu mereka kembali ke masa depan."
"Jangan kasih spoiler langsung, Rihto-san!"
Begitu aku mengatakannya, entah kenapa Toka terlihat marah.
"Eh, kenapa? Bukankah seharusnya kamu merasa beruntung karena bisa menghemat waktu menonton?"
"…Itulah yang jadi masalah! Bagi beberapa orang, memberikan spoiler itu adalah dosa besar! Dosa yang sangat besar! Catat di buku penelitian manusiamu, ya?"
Toka membusungkan pipinya sambil memprotesku.
Aku jadi teringat, dulu aku pernah dimarahi oleh Tayu karena hal serupa. Baiklah, akan kuingat itu.
"Oh, ngomong-ngomong, Touka, tadi aku lihat pengumuman di papan buletin bawah. Katanya, ada orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar akhir-akhir ini. Hati-hati, ya."
"Iya, iya."
Reaksinya begitu santai. Sepertinya tidak ada gunanya membicarakan hal penting saat dia sedang menonton film...
"Yah, nanti saja deh..."
Saat aku hendak pergi, tiba-tiba ujung bajuku ditarik dari belakang.
Ketika aku menoleh, Touka sedang memeluk bantal dan menatapku dari bawah dengan pandangan memohon.
"...Hei, Rihto-san, nonton bareng, yuk?"
"Kan aku sudah pernah nonton film itu—"
"...Ayolah, nonton bareng, ya?"
Di matanya terlihat sedikit perasaan kesepian, dan aku—
"...Yah, baiklah. Tidak masalah menontonnya lagi."
Akhirnya, aku duduk di samping Touka.
"Eh-hehe."
Kami duduk berdampingan, makan keripik kentang sambil menonton film tentang mesin waktu.
Meskipun aku sudah pernah menonton film ini sebelumnya, menontonnya lagi dengan seseorang yang bereaksi di sebelahku ternyata cukup menyenangkan.
Setelah menonton film, kami memutuskan untuk memulai eksperimen hari ini.
"Baiklah, ayo kita mulai eksperimen hari ini! Kali ini aku agak percaya diri! Rihto-san, coba lihat ini sebentar."
"…Oh?"
Aku kemudian membaca rencana eksperimen yang diberikan oleh Tuoka.
Rencana Eksperimen Hari Ini: 'Keterikatan Kuantum'
1. Menyiapkan mesin eksperimen yang dapat mensimulasikan keterikatan kuantum.
2. Melakukan berbagai eksperimen tentang perilaku kuantum dari dua entitas yang terpisah menggunakan mesin tersebut.
3. Kalau beruntung, mungkin bisa diproduksi secara komersial!
Setelah membaca rencana tersebut, aku merasa sedikit ragu.
"…Eksperimen itu nanti kita lihat lebih lanjut, tapi apa maksudnya dengan diproduksi secara komersial?"
"Fufuun, mesin eksperimen yang ditemukan oleh Touka ini... Lihatlah… inilah dia!"
Toka mengeluarkan sebuah benda aneh seukuran kepalan tangan dari tasnya.
"Pararara~! Namanya… 'Tuan Kuantum!'"
"Hiik!"
Melihat betapa menyeramkannya bentuk benda yang dikeluarkan Touka dari tas, aku tak bisa menahan diri untuk berteriak.
Benda itu lebih mirip dengan barang kutukan daripada mesin. Bahkan jika disebut sebagai peralatan sihir hitam, rasanya tak ada yang aneh. 'Tuan Kuantum' ini adalah boneka berbahan karet sepanjang sepuluh sentimeter dengan wajah besar yang terpelintir seolah-olah menderita kesakitan. Dari hidung, telinga, dan mulut boneka tersebut keluar kabel-kabel plastik, seperti manusia yang terus dihisap energinya oleh mesin, memohon pertolongan.
"Rasanya aku bisa mendengar boneka ini berbisik 'Bunuh aku… bunuh aku…'."
"Eh-hehe, lucu, kan?"
"…Aku tidak mengerti perasaan seorang gadis SMA…"
"Ini adalah 'Tuan Kuantum A'!"
"…A?"
"Baiklah, biar aku jelaskan eksperimen keterikatan kuantum menggunakan Tuan Kuantum! Keterikatan kuantum adalah ketika keadaan satu kuantum dipastikan, maka sifat kuantum yang menjadi pasangannya juga akan dipastikan. Nah, teori teleportasi kuantum yang menggunakan keterikatan kuantum ini mungkin bisa diterapkan untuk melakukan perjalanan waktu."
"Aku tidak begitu paham, tapi… maksudmu apa?"
"Singkatnya…"
Toka mengeluarkan satu lagi boneka kuantum dari tasnya.
"Ini 'Tuan Kuantum B'. Dia terhubung dengan 'Tuan Kuantum A' yang tadi kupegang. Jika terjadi perubahan pada salah satu dari mereka, perubahan yang sama akan terjadi pada yang lainnya! Yah, mari kita coba saja. Rihto-san, kamu pegang 'Tuan Kuantum B' ini. Kita akan mulai eksperimen."
Setelah berkata begitu, Touka menyerahkan 'Tuan Kuantum B' kepadaku. Hanya dengan memegangnya saja, rasanya aku seperti akan terkena kutukan.
"Baiklah, ayo kita mulai."
Touka menutup matanya sambil menggerakkan leher dan jarinya, mempersiapkan diri.
"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, tapi berhentilah bertingkah seperti seorang maestro."
"Baiklah, pertama-tama, kita akan mencabut kabel ini… Heiya!"
Kemudian, Touka menarik kabel yang ada di lubang hidung Tuan Kuantum A dengan paksa hingga terlepas. Saat itu, mulut Tuan Kuantum A terbuka lebar—
"GYEEEEEEEE!"
"Astaga, berisik sekali!"
Tuan Kuantum A menjerit dengan suara sangat keras. Suaranya sangat menyakitkan di telinga, Namun, yang membuatku terkejut bukan hanya itu.
"GYEEEEEEEE!"
"Wah!"
Tiba-tiba, Tuan Kuantum B yang ada di tanganku juga menjerit, dan kabel-kabel di lubang hidungnya terlepas satu per satu.
"…Eh, eh, apa yang sedang terjadi?"
"Fufufu, bagaimana, Rihto-san? Ini adalah aksesori Kuantum entanglement yang dibuat oleh Touka, Tuan Kuantum!"
Aku mencoba menarik kabel di telinga Tuan Kuantum B yang ada di tanganku.
"GUYAGYAGYAGYA!"
Dengan cara yang sama, kabel di telinga Tuan Kuantum A yang dipegang oleh Touka juga terlepas, sambil mengeluarkan jeritan. Kedua boneka itu sepenuhnya terhubung dan saling mempengaruhi gerakan serta suara satu sama lain.
"Ini keren, kan? Semua suara dan gerakannya terhubung sempurna! Bukankah ini lucu? Kalau dipasarkan sebagai barang untuk pasangan, mungkin ini bisa laku keras, kan?"
"Eh, menurutku sih ini mengerikan, jadi mungkin tidak akan laku... Tapi, ini memang keren. Jadi, dua objek ini benar-benar terhubung, ya? Kamu berhasil menciptakan alat yang bisa meniru entanglement kuantum? Kamu memang ilmuwan hebat!"
"Tidak, kedua boneka ini hanya terhubung melalui Bluetooth, kok."
"Jadi ini cuma mainan biasa."
"Tapi bisa juga dijadikan gantungan kunci, dan tabung di belakangnya bisa digunakan sebagai alarm keamanan. Nih, aku kasih Tuan Kuantum B ini buatmu. Touka akan pegang Tuan Kuantum A. Bawa terus di dekatmu... dan kalau merasa kesepian, ingatlah aku, ya?"
Aku menerima gantungan kunci yang bentuknya sama sekali tidak lucu.
"…Terima kasih."
"GUWEEE───..."
Tuan Kuantum B masih mengeluarkan suara jeritan kecil. Semakin dilihat, semakin tidak lucu boneka ini.
"Eh-hehe, kita punya yang sama sekarang, Rihto-san~."
Namun, Touka tampak sangat senang saat menggantungkan Tuan Kuantum di tasnya. Ya, selama Touka bahagia, tidak apa-apa.
"Aku tidak mau berjalan di luar dengan aksesori seperti ini karena akan membuatku terlihat aneh."
Saat itu aku teringat sesuatu.
"Tunggu, Toka. Ngomong-ngomong soal alarm keamanan, aku ingat... belakangan ini ada laporan tentang orang mencurigakan yang muncul di sekitar apartemen kita."
Aku kembali membahas tentang orang mencurigakan itu.
"Eh, masa? Aku tidak tahu... Serem, ya…"
Ternyata dia memang tidak mendengarkan saat aku memberitahunya tadi.
"Benar, meskipun kita tinggal di lantai atas dengan keamanan pintu otomatis, kita tidak pernah tahu kapan orang mencurigakan bisa masuk ke rumah ini. Jadi pastikan pintu selalu terkunci dengan baik—"
Saat itu tiba-tiba terdengar suara keras, seperti sesuatu jatuh di depan pintu masuk.
"Hii!"
"Kya!"
Aku terkejut dan tanpa sadar memeluk Touka. Namun, Touka lebih terkejut dengan cara aku ketakutan daripada suara benda yang jatuh itu.
"…Aah, kaget… Suara itu barusan… dan cara Rihto-san ketakutan."
Touka berkata sambil menghela napas lega.
"…Berhenti mengejekku. Itu reaksi spontan."
"Eh-hehe, Rihto-san itu penakut, tapi imut."
Dipuji oleh seseorang yang menganggap Tuan Kuantum lucu itu sungguh memalukan.
"Tapi, suara tadi… apa mungkin… orang mencurigakan itu ada di depan rumah kita?"
Aku dan Touka saling menatap.
"…Aku akan lihat keadaan di depan pintu."
"Ah,To-Touka juga ikut!"
Jadi, aku dan Touka dengan hati-hati memeriksa lorong di depan rumah dari pintu masuk, sambil waspada terhadap kemungkinan adanya orang mencurigakan.
"Hmm... tidak ada tanda-tanda orang. Mungkin dia sudah kabur... atau mungkin hanya ada sesuatu yang jatuh secara alami?"
"Ah! Rihto-san, lihat ke bawah!"
"…Ke bawah?"
Di sana, aku melihat pot tanaman hias yang sebelumnya diletakkan sebagai dekorasi telah jatuh, dengan tanah berserakan di seluruh lorong.
"…Pot tanamannya... Jadi ini penyebab suara tadi."
"Mungkin... pengelola gedung yang tak sengaja menjatuhkannya?"
"Kalau begitu, seharusnya dia bilang sesuatu... Tapi, yah, masih mungkin juga ini terjadi secara alami... Eh, tunggu."
Aku berjongkok untuk memeriksa jejak yang tertinggal di lantai. Lalu, aku menunjukkan temuanku pada Touka.
"Lihat ini, Toka."
"…Eh?"
Di sana, terlihat jejak kaki manusia yang sepertinya menginjak tanah yang berceceran dari pot. Sepertinya orang mencurigakan itu kaget setelah menendang pot tanaman dan buru-buru kabur sambil menginjak tanah tersebut.
"Jejaknya terputus di sekitar area lift... Tapi jelas orang mencurigakan itu tadi ada di sini. Tepat di depan rumah kita."
"Berarti, dia sedang mendengarkan percakapan kita…?"
"…Kemungkinan besar."
Orang mencurigakan itu benar-benar ada di sana, memata-matai rumahku untuk suatu tujuan.
Informasi itu seketika menimbulkan rasa takut padaku dan Touka.
"A-awawa…"
"T-te-tenang, tenang dulu. Dalam situasi seperti ini, kita harus menghubungi keamanan──"
Tapi, sebelum aku sempat menelepon keamanan, aku tiba-tiba berubah pikiran.
"…Tunggu."
Aku berkata pada Touka.
"…Hei, Touka."
"Ada apa, Rihto-san?"
"Tahu nggak, apa hal terpenting bagi seorang trader?"
"Uh… apa ya… kekuatan finansial?"
"Salah. Yang paling penting adalah kemampuan untuk membuat keputusan cepat secara individu, dan kemauan untuk bertindak berdasarkan keputusan itu. Artinya, di zaman sekarang ini, yang dibutuhkan bukanlah bergantung pada orang lain untuk melindungi kita.... melainkan melindungi diri sendiri!"
Lalu aku memutuskan untuk tidak menelepon keamanan, melainkan menghubungi kontraktor renovasi.
"Rihto-san, kamu mau apa...?"
"Aku akan mengubah seluruh tata letak rumah ini dan mempersiapkan semuanya untuk mengusir orang mencurigakan!"
"Eeehh!? "
K
* * * * * *
Setelah menelepon dan melakukan beberapa negosiasi, pekerja renovasi segera mulai bekerja di rumah.
Renovasi rumah selesai dengan sangat cepat, hanya dalam satu hari. Itu berkat biaya ekstra yang aku bayarkan untuk pekerjaan kilat. Biaya khusus yang sangat berguna.
Aku berdiri di pintu masuk, melihat ke sekeliling rumah dengan puas dari lorong.
"Jadi, inilah hasil akhirnya, rumahku yang dilengkapi dengan sistem keamanan sempurna."
"Hei, Rihto-san,"
Tiba-tiba Touka menyentuh punggungku dari belakang.
"Ada apa?"
"…Entah kenapa, rasanya rumah ini jadi terlihat… menakutkan…"
Touka tampak tidak nyaman dengan perubahan ini.
"Ya tentu saja. Lihat saja, ada delapan belas kamera pengawas dan alarm di pintu masuk. Begitu mendeteksi penyusup, semuanya akan berbunyi bersamaan."
Aku menunjuk ke beberapa kamera pengawas. Sensor berbentuk setengah bola ditempel di seluruh dinding rumah, membuat lorong tampak seperti dihiasi dengan bola-bola boba.
"Tidak nyaman rasanya… Apa benar perlu memasang kamera sebanyak ini di dalam rumah juga?"
"Ngomong-ngomong, kamera pengawas ini menggunakan teknologi yang sama dengan CT scan, jadi bisa menangkap gambar sampai ke organ dalam. Siapa tahu, bisa mendeteksi kanker juga."
"Tidak perlu fitur seperti itu! Untuk apa memeriksa kesehatan penyusup?"
Biaya pemasangan sistem keamanan ini sekitar dua miliar yen. Itu bukan jumlah yang besar bagiku.
"Tapi, Rihto-san, apa ini benar-benar perlu? Bisa saja orang mencurigakan tadi hanya kebetulan lewat, dan karena sudah ketahuan, mungkin dia tidak akan kembali lagi…"
"Yah, kalau begitu juga tidak apa-apa. Memang begitulah tujuan sistem keamanan. Semoga saja alarm ini tidak pernah berbunyi…"
Namun, tepat pada saat itu.
Tiba-tiba, alarm berbunyi keras, "Bip bip bip!"
"Eh? Rihto-san, ini… apa?"
"…Kamera pengawas mendeteksi manusia. Ada penyusup yang muncul!"
Aku segera membuka aplikasi di ponsel untuk melihat rekaman kamera yang mendeteksi penyusup.
"Dia menuju ke arah lift lobi … kelihatannya dia kabur karena terkejut mendengar alarm. Baiklah, kita kejar dia!"
Aku langsung berlari keluar dari rumah.
"T-tunggu, Rihto-san!"
Ketika aku keluar dari pintu, aku melihat bayangan seseorang melesat ke arah lift lobi. Dari ukurannya, sepertinya tubuhnya tidak terlalu besar. Sepertinya aku bisa mengejarnya. Aku mulai berlari dengan kecepatan penuh.
Semoga dia tertahan menunggu lift… pikirku, tapi saat tiba di lift lobi, aku mendengar langkah suara sepat, "Tap tap tap," dari tangga samping.
"Sial, dia turun lewat tangga. Kalau begitu, kita juga pakai tangga!"
"Ri-Rihto-san! Tunggu… haah, haah…"
Aku dan Touka mengejar sosok misterius itu dengan sekuat tenaga. Rumahku berada di lantai 20 sebuah apartemen. Menuruni tangga saja sudah cukup melelahkan.
Dengan napas yang terengah-engah, kami akhirnya sampai di lantai bawah, tepat di luar area apartemen, dan sosok yang kami kejar muncul di depan mata.
"Sial, aku tidak akan kalah! Hyaaa!"
Aku mengerahkan tenaga terakhirku dan menerjang ke arah sosok itu, menjatuhkannya ke tanah.
"Kya!"
"…Hah?"
Begitu aku menabraknya, aku merasakan tubuh yang lembut disertai suara jeritan melengking. Ada sesuatu yang aneh.
Namun, bagaimanapun juga, aku berhasil menangkapnya.
"Aku menangkapmu…!"
Aku memutar tubuh sosok itu yang terjatuh dengan posisi tengkurap, menggenggam bahunya dan membalikkan badannya ke arahku.
Saat lampu jalan menyinari kami berdua, terlihat jelas bahwa yang kutangkap adalah—
Seorang gadis SMA berambut hitam yang diikat model ekor kuda, mengenakan seragam sekolah yang sama dengan Touka.
"Sakit…"
Gadis berambut hitam itu menangis pelan sambil menatapku dengan mata berkaca-kaca dari posisi terjepit.
"Seorang… gadis SMA?"
Tepat pada saat itu, Touka, yang juga terengah-engah, berhasil menyusul kami.
"Ri-Rihto-san, tunggu!"
Begitu melihat gadis SMA yang kutangkap, Touka membuka matanya lebar-lebar, terkejut.
"…Eh? …………………Suzunne?"
Touka memanggil gadis SMA itu dengan jelas, menyebut namanya 'Suzune'.
"Touka, kau kenal dia?" tanyaku.
"Ya, Rihto-san, dia adalah adik kelasku di sekolah…"
Touka menegaskan lagi, tampaknya gadis itu bukan penyusup, melainkan kenalannya.
"…Tolong lepaskan aku, kamu mesum… dasar binatang…"
Dari bawahku, terdengar suara gadis bernama Suzune itu, masih berlinang air mata. Ternyata tanganku secara tidak sengaja menyentuh dadanya. Meskipun tidak terlalu besar.
"Ah, maaf…"
Aku segera meminta maaf. Setelah aku melepaskannya, Suzune berdiri sambil membersihkan debu dari bajunya, dan raambut ekor kudanya yang hitam berayun.
Gerakannya begitu anggun dan bersih, seakan-akan dia bukanlah sosok mencurigakan yang baru saja aku kejar.
"Senang bertemu dengan Anda. Nama saya Suzune Suzushiro, murid kelas satu di SMA Yoimyosei dan adik kelas dari Kakak Touka. Kami akrab karena sama-sama anggota klub sains."
Dengan suara tegas, gadis itu memperkenalkan dirinya.
"Oh, aku adalah Rihto Okuda, Wali Touka. Terima kasih sudah membantu Toka selama ini…"
Aku mengulurkan tangan untuk bersalaman saat memperkenalkan diri, namun Suzune dengan dingin menolak.
"Aku tidak butuh keakraban semacam itu."
"Eh?"
"Kakak Touka, bisakah kamu menjelaskan siapa orang dewasa yang tidak kukenal ini?"
Suzune berkata sambil menatap Touka dengan ekspresi tidak bersahabat.
"U-uh, ya…"
Touka menjawab dengan canggung.
Suzune menyebutku 'orang dewasa yang tidak kukenal'. Dari caranya berbicara, jelas bahwa dia tidak mempercayaiku sama sekali. Pertemuan yang jelas-jelas membawa firasat masalah di masa depan.

